Jumat, 27 April 2012

Kekurangan dan kelebihan adalah malaikat pembimbing kita

Mengawali artikel ini, perkenankan saya memberikan contoh tentang kreativitas. Museum Mercedes-Benz di Jerman sempat uring-uringan soal bahaya kebakaran di tempatnya. Asumsi mereka, andai kebakaran terjadi, harus bisa ditanggulangi sesegera mungkin. Terus, jalan keluarnya? Bukan Mercedes-Benz namanya kalau tidak tahu jalan keluarnya. Maka dirancanglah tornado buatan, yang bisa mengalirkan asap kebakaran keluar dari ruangan dalam waktu sekitar tujuh menit.
Tidak cukup sampai di situ, kreasi ini juga memecahkan rekor, lantaran dianggap tornado buatan terkuat di dunia.

            Ciputra -seorang raja properti sekaligus 1 dari 10 tokoh bisnis paling berhasil di Indonesia menurut majalah Forbes- pernah berargumen, "Bangsa yang maju adalah bangsa yang kreatif." Di buku 10 Jurus Terlarang! dibeberkan dari A sampai Z bagaimana sukses berbisnis bermodalkan kreativitas. Berdasarkan pengalaman saya sebagai entrepreneur dan seniman, kerap kali kreativitas berhubungan terbalik dengan rutinitas. Asal tahu saja, saya pribadi mengumpan kreativitas dengan menciptakan lagu. Tidak jauh melenceng dari mahaguru pemasaran Philip Kotler. Via sebuah teleconference di Singapura, saya dengar sendiri pengakuannya, "Saya memoles kreativitas dengan menikmati karya-karya seni."

Dan lebih dari 2000 tahun yang silam, Aristoteles mengamati kejeniusan hampir selalu digelayuti dengan kegilaan. Nah lho! Patutlah Albert Einstein pernah bersorak, "Hidup kekurang-ajaran! Ketahuilah, kekurang-ajaran adalah malaikat pembimbing saya di muka bumi ini." Of course, kegilaan dan kekurang-ajaran yang dimaksudkan di sini adalah pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan yang kreatif. Apapun istilahnya, semua pihak sepakat kreativitaslah yang membuat kehidupan ini dinamis. Makanya mulai detik ini juga, bukalah pikiran Anda! "Enlightening minds, expanding horizons," istilah toko buku Gramedia.

Ada satu cerita nih. Joe Girard adalah seorang penjual yang bolak-balik memecahkan rekor dunia. Suatu saat, ia menawarkan sesuatu kepada seorang bapak-bapak, "Pak, apakah Bapak bersedia membeli obat cuci mulut seharga 100 dolar?"

Si Bapak langsung menyergah, "Anda sudah gila, ya? Itu perampokan namanya!"

Pantang menyerah, Joe Girard mencoba lagi, "Baiklah, baiklah. Karena harganya terlalu mahal, maka saya diskon jadi 50 dolar. Bagaimana, Pak?"

Lagi-lagi Si Bapak berseru ketus, "You must be crazy! Enyah dari hadapan saya!"

Joe Girard pun mengambil sesuatu dari kantongnya dan mengeluarkan dua bungkus permen. Dengan santun, ujarnya kepada Si Bapak, "Pak, mohon maaf, kalau saya keterlaluan. Sebagai permohonan maaf dari saya, sudilah Bapak menerima permen ini."

Si Bapak pun mengambil permen tersebut dan mengunyahnya. Tapi tiba-tiba Si Bapak memuntahkan permen itu dan berteriak, "Hei! Permen kok rasanya kayak tahi!"

"Memang, Pak," ucap Joe Girard santai. "Sekarang Bapak mau beli obat cuci mulutnya ‘kan?"

Hahaha! Cerita di atas memang fiktif. Tetapi, saya pikir lumayan kreatif dan inspiratif. Mudah-mudahan pikiran Anda terbuka karenanya dan Anda tidak takut lagi menjajal cara-cara yang berbeda. "I did it my way," seru sebuah lagu lama.

Ippho Santosa adalah Creative Marketer, dengan latarbelakang entrepreneur di bidang properti, musik, makanan, dan penulis bestseller 10 Jurus Terlarang!


sumber http://www.andriewongso.com/

0 komentar:

Posting Komentar

Follow by Email