Sabtu, 21 April 2012

kisah sukses security pom bensin


Ini ada cerita ringan, dialog antara Ust. Yusuf Mansur dengan Security POM Bensin
SEMOGA BERMANFAAT

Banyak yang mau berubah,

tapi memilih jalan mundur.

Andakah orangnya?

Satu hari saya jalan melintas di satu daerah. Tetidur di dalam mobil.

Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya:

Â

"Nanti di depan ke kiri ya".

"Masih banyak, Pak Ustadz".

Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan.

Saya pengen pipis.

Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti.

"PakUstadz!" .

Dari jauh ia melambai dan mendekati saya.



Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau.

"Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya

melihat di TV saja...". Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he

he he. "Saya ke toilet dulu ya".

"Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?"

"Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?"

"Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz".

Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang "berhentiin" saya.

Lagi enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh nemu pom

bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu

bicara dengan dia. Sekuriti ini barangkali "target operasi" dakwah hari ini.

Bukan jadwal setelah ini. Begitu pikir saya

Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, "Ok, ntar habis dari toilet ya".

***

"Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?", tanya saya membuka

percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini.

Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya yang dilengkapi

fasilitas ngopi-ngopi ringan.

"Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?"

"Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu.

Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya" .

"Wah, ustadz langsung nembak aja nih".

Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah.

Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah

ga

mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu saja.

"Udah shalat ashar?"

"Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga?

Ya saya pikir sama saja".

"Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ adalah juga ibadah?"

Sekuriti itu senyum aja.

Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa

benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma sebatas

omongan doangan. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang

kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai ibadah.

Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap

nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah

tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai

ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita

menerima tamu sementara Allah datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu

shalat datang, dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka

yang demikian masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah? Apalagi

kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih sedikit

ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh

sebutan-sebutan ibadah.

"Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5

nih masuk ke pom bensin ini", saya mengejar.

"Ya, kurang lebih dah".

Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang

'alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut

perhatian sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu.

Aqimish shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu, kita

bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan jadi sama

saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu saya ingatkan

sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah sedang

berkenan

mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.

"Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk mengejar

ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu setengah jam

andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit. Bila dalam sehari

semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh,

sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan

kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu dikali sekian hari dalam sebulan, dan

sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian tahun kita telat. Itu

baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih

bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja

mestinya kita dari senang".

Saudara-saudaraku Peserta KuliahOnline, percakapan ini kurang lebih

begitu.

Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut mukanya,

nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara ya? He

he he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini kudu nanya paham apa engga

sama lawan bicara?

Saya katakan pada dia. Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya,

maka kawan-kawan selitingnya mah udah di mana, dia masih seperti diam di

tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha,

sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa

jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.

Dan saya mengingatkan kepada peserta KuliahOnline untuk tidak menggunakan

mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung

jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu yang

rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah. Jawaban terhadap

pertanyaan-pertanya an seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu satu

dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat

dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.

Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, "Terus, mau berubah?"

"Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga serius?"

"Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya".

"Ngebut gimana?"

"Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya.

Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah.

Jangan sampe keduluan Allah".

Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di

atas sajadah. Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang

Bagi-bagiin rizki. Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini. Kan aneh.

Dia pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah

memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang

bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin klien, rapih,

wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah, amit-amit

pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan

fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah.

"Yang kedua," saya teruskan. "Yang kedua, keluarin sedekahnya".

Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa. "Pak Ustadz,  pegimana mau sedekah,

hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa

dibuka lagi,. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan".

"Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?"

"Satu koma tujuh, Pak ustadz".

"Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang

sering sebut orang kecil, itu udah gede".

"Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini

bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz".

"Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?"

"Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama

kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz".

"Koq bisa?"

"Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu sampe

ketemu angka 1,7jt".

"Terus, kenapa masih kurang?"

"Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak".

"Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente

kredit motor? Kan ga perlu?"

"Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz".

"Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan

ilmu

dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot".

Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu.

Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia nutupin

kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik.

Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.

"Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?"

"Mau Ustadz. Saya benahin dah".

"Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan

berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin. Ikutan semuanya

ngebenahin shalat".

"Siap ustadz".

"Tapi sedekahnya tetap kudu loh".

"Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada".

"Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq".

"Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya.

Tabungan juga ga ada. Emas juga ga punya".

Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya akan

cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja, tapi

sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul. Setidaknya

menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya lain

soal itu mah.

Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti, "Kang, kalo saya unjukin

bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau percaya?".

Si sekuriti mengangguk. "Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?" .

Sekuriti ini ngangguk lagi. "Selama saya bisa, saya akan jalanin,"

katanya, manteb.

"Gajian bulan depan masih ada ga?"

"Masih. Kan belum bisa diambil?"

"Bisa. Dicoba dulu".

"Entar bulan depan saya hidup pegimana?"

"Yakin ga sama Allah?"

"Yakin".

"Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau".

Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi

usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga

perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya.

Trmasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha

dan tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk baca al

Qur'an.

Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah. Shalat Jum'at

aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu dia aminin.

Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya hanya menjadi

sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi!

Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan

posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana.

Tapi ya begitu dah hidup. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting kerja

dan ada gajinya.

Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu

keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga apa-apa

juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal apa? Asal kita

barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang ini, biarin aja

harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja diri, agar mau menambah

ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya hidup kemakan

dengan tingginya harga,. Ga kebagian.

***

Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat

apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol.

Satu koma tujuh. Semuanya.

"Mana bisa?" kata komandannya.

"Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya berani".

Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini

jawab dengan menceritakan pertemuannya dengan saya.

Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama

ownernya ini pom bensin. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan

30% aja belum tentu lolos cepet. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui.

Sebab komandannya ini ikutan merayu, "Buat sedekah katanya Pak", begitu

kata komandannya.

Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab cerita

si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah pertemuannya

dengan saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya. Termasuk dinanti

oleh bos nya.

"Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya", begitu lah

pemikiran kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama

Allah melalui jalan shalat dan sedekah.

Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul

shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah sunnahnya.

Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya jadi barokah

dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini. Apalagi

kenyataannya si sekuriti ga mengurangi kedisiplinan kerjaannya. Malah tambah cerah mukanya.

Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan

dia tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan

kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal

dengan catatan dia berhasil dulu.

Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa,

saya demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal

diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si

sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang

belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah

pasti tidak akan mempermalukannya juga, sebagaimana Allah tidak akan

mempermalukan si sekuriti.

Suatu hari bos nya pernah berkata, "Kita lihatin nih dia. Kalo dia ga kasbon

saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka kelihatannya dia

gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan yang diambil di muka,

kalau kemudian kas bon. Percuma".

Tapi subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.

Berhasil kah?

Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi,

tidak kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual motor.

Bukan dari keajaiban mendekati Allah.

Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan

yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.

"Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian.

Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren".

Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo

ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si

sekuriti ini benar-benar bikin bengong orang pada.

Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia

sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya

di bulan depan yang dia pertaruhkan, trjadi keajaiban. Di kampung, ada

transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya ga trlibat secara

fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual. Katanya,

dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan lebih. Dia

sedekah 1,7jt gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di

kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu trjadi begitu cepat. Sampe-sampe bulan

kemaren juga belum selesai. Masih tanggalan bulan kemaren, belum berganti

bulan.

Kata si sekuriti, sadar kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu

sama Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya

melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin

satu-satunya ibunya yang masih hidup. Subhaanallaah kan? Itu jual motor,

kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta. Tapi

dia tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya

punya 25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.

Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta

lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini,

ia aman. Ga perlu kasbon.

Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin semua karyawannya, dan

menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya

selama 1 bulan setengah ini.

Apakah cukup sampe di situ perubahan yang trjadi pada diri si sekuriti?

Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut

sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner

yang lain, dan dijadikan staff keuangan di sana. Masya Allah, masya Allah,

masya Allah. Berubah, berubah, berubah.

Saudara-saudaraku sekalian. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang

Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman

seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja

menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan!

Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru

sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipake sama

dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya,

buat perubahan hidupnya.

Subhaanallaah, masya Allah.

Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar

sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya

kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak

suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai

sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia.

Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar.

Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta KuliahOnline yang

saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah?

Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana pom bensinnya?

Bisa kah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya

juga buat saya tidak gampang menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang

punya prinsip hidup yang berbeda. Di antara semua peserta KuliahOnline saja

ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup

ini. Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya lagi memilih

menceritakan ini kepada satu dua orang saja, dan hanya orang-orang tertentu

saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk dicontoh. Dan memang bukan

apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang buat seseorang

menempatkan dirinya untuk menjadi contoh.

Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini

mengisnpirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja

kisah ini.

Kita ngebut sengebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak,

sudah, jangan terus-terusan meratapi dosanya. Kejar saja ampunan Allah

dengan memperbanyak taubat dan istighfar, lalu mengejarnya dengan amal

saleh. Persis seeperti yang kemaren-kemaren juga dijadikan statement esai penutup.

Kepada Allah semua kebenaran dan niat dikembalikan. Salam saya buat keluarga

dan kawan-kawan di sekeliling saudara semua. Saya merapihkan tulisan ini di

halaman parkir rumah sakit Harapan Kita. Masih di dalam mobil. Sambil

menunggu dunia terang. Insya Allah hari ini bayi saya, Muhammad Yusuf al

Haafidz akan pulang ke rumah untuk yang pertama kalinya. Terima kasih banyak

atas doa-doanya dan perhatiannya. Mudah-mudahan allah membalas amal baik saudara semua.

Dari semalam saya tulis esai ini. Tapi rampungnya sedikit sedikit. Ini juga

tadinya bukan esai sekuriti ini yang mau saya jadikan tulisan. Tapi ya Allah

jugalah yang menggerakkan tangan ini menulis.

Semalam, file yang dibuka adalah tentang langkah konkrit untuk berubah.

Lalu

saya lampirkan kalimat pendahuluan. Siapa sangka, kalimat pendahuluan ini

saja sudah 10 halaman, hampipr 11 halaman. Saya pikir, esai ini saja sudah

kepanjangan. Jadi, ya sampe ketemu dah di esai berikutnya. Saya berhutang

banyak kepada saudara semua. Di antaranya, saya jadi ikut belajar.

Semalam saya ikutan tarawih di pesantren Daarul Qur'an internasional.

Sebuah

pesantren yang dikemas secara modern dan internasional. Tapi tarawihnya

dijejek 1 juz sekali tarawih. Masya Allah, semua yang terlibat, terlihat

menikmati. Ga makmumnya, ga imam-imamnya, ga para tamu dan wali santri yang

ikut. Semua menikmati. Jika ada di antara peserta KuliahOnline yang pengen

ikutan tarawih 1 juz ini, silahkan datang saja langsung ya. Insya Allah

saya usahakan ada. Sebab saya juga kebagian menjadi salah satu imam jaganya.

Ya, kondisi-kondisi begini yang saya demen. Saya kurangin jadwal, tapi masih

tetep bisa ngajar lewat KuliahOnline ini. Dan saya masih sempet mengkader

ustadz-ustadz muda untuk diperjalankan ke seantero negeri. Sementara saya

akhirnya bisa mendampingi para santri dan guru-guru memimpin dan

mengembangkan pesantren Daarul Qur'an ini.

Ok, kelihatannya matahari sudah mulai kelihatan. Saya baru pulang juga

langsung dari TPI. Siaran langsung jam 5 ba'da shubuh tadi. Istri saya

meluncurnya dari rumah. Doakan keluarga kami ya. Saya juga tiada henti

mendoakan saudara dan jamaah semua

sumber : http://sukses-hadi.blogspot.com/

0 komentar:

Posting Komentar